Bapperida Purworejo Ikuti Konferensi Dinas Kecamatan Loano di De Glamping Loano

By bidang_epw 14 Mei 2026, 01:56:37 WIB Bidang PSDAIK
Bapperida Purworejo Ikuti Konferensi Dinas Kecamatan Loano di De Glamping Loano

Pada hari Rabu, tanggal 13 Mei 2026, bertempat di De Loano Glamping, Desa Sedayu Kecamatan Loano, Pemerintah Kecamatan Loano menggelar konferensi dinas yang membahas salah satunya terkait strategi pengembangan kawasan wisata Glamping De Loano sebagai salah satu destinasi unggulan berbasis alam di Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini dihadiri oleh unsur perangat daerah dari Bapperida, Dinporapar, DPPPAPMD, DPUPR, perwakilan Badan Otoritatif Borobudur, kades/perangkat desa se-Kecamatan Loano, serta perwakilan masyarakat setempat.

Dalam forum tersebut, Camat Loano menegaskan bahwa Glamping De Loano memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya dalam sektor pariwisata berbasis ekowisata dan pemberdayaan masyarakat. Keunggulan lanskap alam perbukitan Menoreh menjadi daya tarik utama yang perlu dikelola secara berkelanjutan dan terintegrasi. Dalam kesempatan tersebut juga hadir Plt. Dirut BOB. Beliau menyampaiakan bahwa dalam rangka pengembangan destinasi pariwisata berbasis kawasan di wilayah Perbukitan Menoreh, Badan Otorita Borobudur (BOB) telah melaksanakan serangkaian upaya strategis dalam pengembangan De’Loano Glamping sebagai bagian dari Borobudur Highland. Pengembangan ini diarahkan untuk mewujudkan destinasi unggulan yang berdaya saing, berkelanjutan, serta mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal dan regional.

Upaya yang dilakukan diawali dengan peningkatan kualitas amenitas melalui revitalisasi dan pengembangan sarana prasarana glamping yang mengedepankan konsep akomodasi berbasis alam (nature-based accommodation) dengan standar pelayanan modern. Peningkatan ini mencakup penyediaan fasilitas hunian yang nyaman, sanitasi yang memadai, serta ruang-ruang publik yang mendukung aktivitas wisatawan, sehingga mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisata (tourist experience) dan lama tinggal wisatawan (length of stay). Selanjutnya, BOB mengarahkan pengembangan De’Loano Glamping pada konsep wellness tourism, yaitu pariwisata yang berorientasi pada kesehatan dan kebugaran fisik maupun mental. Pendekatan ini diimplementasikan melalui penyediaan aktivitas rekreasi berbasis alam, seperti relaksasi, meditasi, dan interaksi dengan lingkungan hutan pinus, yang selaras dengan tren pariwisata global pasca pandemi. Dengan demikian, destinasi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga sebagai ruang pemulihan (healing space) yang terintegrasi dengan ekosistem alam. Dalam aspek pemberdayaan masyarakat, BOB menerapkan pendekatan community-based tourism dengan melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan operasional maupun rantai pasok pariwisata. Pelibatan ini diwujudkan melalui penyerapan tenaga kerja lokal, pemanfaatan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengembangan atraksi berbasis budaya lokal. Pendekatan tersebut bertujuan untuk menciptakan efek pengganda ekonomi (multiplier effect) serta memastikan distribusi manfaat pariwisata yang lebih merata dan inklusif. Dari sisi kelembagaan, BOB memperkuat tata kelola destinasi melalui skema kerja sama dengan pihak ketiga/mitra operator profesional dalam pengelolaan fasilitas dan layanan wisata. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta profesionalitas pengelolaan destinasi, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset negara dalam kerangka Badan Layanan Umum (BLU). Selain itu, pengembangan De’Loano Glamping juga didukung oleh digitalisasi layanan, meliputi sistem reservasi daring, penerapan pembayaran non-tunai, serta penguatan promosi berbasis platform digital. Transformasi digital ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas informasi, kemudahan layanan, serta menjangkau segmen pasar yang lebih luas, khususnya wisatawan milenial dan digital-savvy.

Dalam konteks pengembangan kawasan, BOB mengintegrasikan De’Loano Glamping dengan destinasi lain dalam Borobudur Highland serta kawasan penyangga di wilayah Purworejo, Magelang, dan Kulon Progo. Integrasi ini dilakukan melalui penguatan konektivitas, pengembangan paket wisata terpadu, serta penyelenggaraan event dan atraksi wisata. Dengan demikian, tercipta ekosistem pariwisata yang saling terhubung dan berkelanjutan. Upaya tersebut juga diimbangi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata melalui pelatihan dan pendampingan di bidang pelayanan, manajemen hospitality, dan pengelolaan destinasi. Peningkatan kompetensi SDM menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas layanan serta keberlanjutan pengelolaan destinasi. Secara keseluruhan, langkah-langkah yang dilakukan oleh BOB dalam pengembangan De’Loano Glamping mencerminkan pendekatan pembangunan pariwisata yang terintegrasi, berbasis kawasan, serta berorientasi pada keberlanjutan (sustainable tourism development). Pendekatan ini mengedepankan sinergi antara aspek amenitas, atraksi, aksesibilitas, kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan nilai-nilai sosial budaya lokal.

Upaya dari BOB tersebut tidak akan berhasil jika tidak tidak didukung oleh Komitmen Pemkab Purworejo. Dalam rangka mendukung pengembangan De’Loano Glamping sebagai destinasi unggulan di kawasan Perbukitan Menoreh, Pemerintah Kabupaten Purworejo memberikan perhatian serius terhadap penguatan infrastruktur dasar dan penunjang yang berperan strategis dalam meningkatkan aksesibilitas, konektivitas, serta kenyamanan wisatawan. Dukungan infrastruktur ini dilaksanakan secara terencana dan terintegrasi dengan kebijakan pengembangan kawasan pariwisata berbasis wilayah. Pada aspek jaringan transportasi, Pemerintah Kabupaten Purworejo berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas jalan menuju kawasan De’Loano Glamping melalui kegiatan pembangunan, peningkatan, dan pemeliharaan jalan kabupaten, termasuk pelebaran badan jalan pada segmen-segmen kritis serta penguatan struktur perkerasan. Upaya ini juga mencakup penataan geometrik jalan di kawasan perbukitan guna meningkatkan keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas, mengingat karakteristik topografi yang berbukit dan berkelok.

Hasil konferensi menghasilkan beberapa poin strategis. Pertama, peningkatan infrastruktur pendukung, seperti akses jalan, jaringan listrik, air bersih, serta fasilitas sanitasi, menjadi prioritas utama guna meningkatkan kenyamanan wisatawan. Kedua, penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan pengelolaan wisata, hospitality, dan pemasaran digital bagi masyarakat sekitar. Selain itu, dibahas pula pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah kabupaten, Badan Otorita Borobudur, serta pihak swasta, guna memperluas investasi dan promosi wisata. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Dalam aspek keberlanjutan, konferensi menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara pengembangan wisata dan pelestarian lingkungan. Pengelolaan sampah, pembatasan kapasitas kunjungan, serta penerapan prinsip ramah lingkungan menjadi bagian dari komitmen bersama. Dengan adanya sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Glamping De Loano diharapkan mampu menjadi ikon wisata baru di Purworejo sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.(/fse)